
Atas nama ikhtiar, Allah mengijinkan saya utk berangkat ke Bogor, Kota yg belum sempat saya tekuni. Kedatangan saya disambut dengan bangunan arsitektur stasiun yg luar biasa,meskipun hampir sama dgn stasiun kebanyakan, tp aura stasiun bogor menyajikan karakteristik tersendiri,jdlah saya bak turis yg plonga plongo menyapu habis setiap sudut stasiun dengan mata yg agak bermasalah.
Kemegahan stasiun bogor mendadak sirna saat saya mulai melangkah keluar, seolah tanpa batas, mereka yg menjajakan buah dan lapak2 lain pun memenuhi halaman stasiun, otomatis kemegahannyapun tenggelam dengan aktivitas mereka.
Kompleksnya masalah "ruetisasi" seputaran stasiun dipertegas dgn bertaburnya angkot, rusakna jalan di dpn stasiun serta penataan PKL nya yg belum terkonsep, keadaan itu memaksa saya untuk diam 5 menit dan membayangkan andai saya jd wali Kota Bogor dan menciptakan konsepsi penataan stasiun berbasis masyarakat.
Keruetan komplek stasiun mendadak menjadi tdk penting saat bangunan tua nan megah lainnya ternyata bertaburan di Bogor. Saya hanya bisa diam,senyam senyum dan plonga plongo menikmati Kota yg tdk pernah ada di bayangan saya, kebun raya sbg paru2 kota yg konon kata seseorang yg ber jilbab coklat banyak "penghuni" nya. Kebun raya yg terintegrasi dgn istana Bogor seolah mjd titik pusat ribuan angkot bertawaf mengitarinya. Namun satu h yg paling penting dari Bogor, yaitu kebersahajaan kota kaya yg tdk bnyk merubah konsep dan perilaku masyarakatnya, krn memang antara konsep kota dan perilaku masyarakat terdapat benang merah yg saling mempengaruhi.
Satu hal yg saya cari di Bogor saat itu, mahluk yg saya percaya memiliki kehidupan dan komunitas sendiri yaitu air hingga akhirnya saya menemukannya di "gubuk" seseorang yg bersandal coklat. Tdk seperti yg saya bayangkan, air Bogor tdk sedingin air Malang, padahal antara Kota Bogor dan Malang memiliki banyak persamaan. Air bogor terasa lbh hangat menyapa dibanding air malang yg lbh dingin membelai. Saya jd semakin penasaran terhadap hasil olahan PDAM terbaik di Indonesia itu.
pelajaran hidup yg bisa saya kantongi dari Bogor adalah kebersahajaan, hal yg luar biasa yg saya temukan di Bogor hingga seseorang dgn tas coklat mengajak saya kembali ke Jakarta.
semoga Allah memberikan kesempatan utk lbh lama lg berkunjung ke Bogor, kota hujan yg kini jarang hujan.

No comments:
Post a Comment