
Indonesia adalah negara dengan potensi yang sangat besar. Faktor ketersediaan sumber daya alam menjadi penyumbang potensi besar tersebut. Potensi yang besar tidak lantas menjadikan kita berpuas diri, namun ada permasalah yang akan timbul dari potensi besar tersebut yaitu permasalahan mengenai pengelolaan/manajemen atas sumber daya alam dan kekayaan lainnya. Manajemen prosedural terlembaga dilakukan oleh pemerintah dalam negara yang berdaulat.
Manajemen atas kekayaan negara oleh UUD 1945 dilakukan oleh pemerintah, terutama kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Mengelola kekayaan negara merupakan salah satu tugas dari pemerintah sebagai pengelola negara. Mengelola negara bukanlah masalah mudah, apalagi untuk negara dengan karakteristik rakyatnya yang beragam. Banyak konsepsi yang diterapkan dalam mengelola bangsa ini, apabila kita gunakan indikator keberhasilan mengelola negara yang jelas maka akan tergambar rekam jejak konsepsi dan keberhasilannya.
Sumenep, salah satu Kabupaten yang terletak di ujung paling timur pulau Madura memiliki peran yang cukup penting bagi sejarah perjalanan bangsa ini, meskipun tidak semua orang kenal dengan Kabupaten Sumenep, padahal apabila kita pelajari sejarah, bagaimana Sumenep melalui Raja nya bernama Aria Wiraraja memainkan perannya dalam membangun kerajaan majapahit dan sejarah mencatat bahwa konsep kerjaan Majapahit disusun di Sumenep hingga kerajaan tersebut bisa menaklukkan seluruh wilayah Indonesia yang kemudian populer dengan istilah “Nusantara”.
Dewasa ini, kami kembali ingin menawarkan sebuah solusi dalam mengelola negara dengan mengadopsi dan mengadaptasi secara proporsional nilai-nilai kearifan lokal dan budaya lokal yang ada dalam masyarakat Sumenep pada khususnya dan masyarakat Madura pada umumnya.
Generalisasi yang keliru dan pengamatan yang tidak jeli menjadikan image masyarakat Madura “dikesankan” negatif oleh hampir orang kebanyakan. Orang Madura dikesankan memiliki skill yang terbatas, pengetahuan yang sempit, emosi yang meledak-ledak, kasar, carok, preman, pemalas hingga tukang kawin. Pengesanan yang saat ini diterima oleh orang kebanyakan dan semakin hari semakin diperkuat dengan hanya melihat pada prespektif sektoral harus dihentikan. Apabila kita belajar lebih dalam lagi tentang budaya dan karakteristik masyarakat Madura maka ekstrim dapat kami katakan bahwa konsepsi kearifan lokal dan nilai-nilai dalam masyarakat Madura umum nya dan Sumenep pada khususnya dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengelola bangsa ini.
Pengetahuan masyarakat Madura yang terbatas disebabkan karena fasilitas informasi teknologi maupun pendidikan yang tidak selengkap daerah lainnya. Kualitas pendidikan yang sangat biasa dan jauh apabila dibandingkan dengan kota lainnya di Jawa Timur. Adalah Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi), M.A Rachman (Mantan Jaksa Agung RI), H.M. Noer (Mantan Gubernur Jatim & Duta Besar RI di Prancis), Wardiman Djojonegoro (Mantan Mendiknas RI), Didik J. Rachbini (Ekonom), R. Hartono (Manatan KASAD), Roesmanhadi (Mantan KAPOLRI) yang kesemuanya berhasil membongkar paradigma keterbatasan masyarakat Madura dan masih banyak orang-orang Madura lainnya yang berhasil.
nilai leadership dalam budaya Madura
Apabila kita menguak nilai-nilai yang terkandung dan beredar di kalangan masyarakat Madura umumnya dan Sumenep khususnya, maka akan tertepis prasangka dan image yang orang kebanyakan mempercayai itu.
Pajar Laggu :
“Pajar Laggu arena pon nyonara,
Bapak tane se tedhung pon jaga`a,
Ngala` arek tor landhu` tor capenga,
Ajalanna gi sarat kawajiban,
Atatanem ma banyak hasel bumina,
Ma makmor nagara na tor bangsana”
Fajar Pagi :
“Fajar pagi, matahari akan segera terbit,
Pak petani yang sedang tidur pun sudah pada bangun,
Mempersiapkan arit, cangkul dan topi caping nya,
Cara mereka jalan mengisyaratkan kewajiban
Menanam untuk memperbanyak hasil bumi untuk
Me makmurkan negara dan bangsa”
Konsepsi dari Sumenep untuk Indonesia terilhami dari sejarah pembentukan kerajaan Majapahit yang dikonsep bersama Aria Wiraraja di Sumenep pada waktu itu hingga Majapahit berhasil menyatukan Nusantara. Selain itu konsepsi tersebut mengadaptasi nilai-nilai dari budaya daerah seperti lagu daerah berjudul “Pajar Laggu” yang berarti “Fajar Pagi”. Lagu tersebut menceritakan tentang kerja keras petani Madura yang harus bangun pagi-pagi buta sebelum matahari terbit untuk bercocok tanam menghasilkan hasil pertanian yang berkualitas untuk memanfaatkan potensi tanah yang subur dan memberikan asupan gizi dari hasil pertanian yang ditanam. Dari lirik Pajar Laggu memberikan kita pemahaman bahwa diperlukan sinergi antara anugerah Tuhan atas tanah-tanah yang subur dengan peningkatan sumber daya manusia dengan memberikan makanan yang bergizi untuk setiap magar sare (penduduk). Tidak hanya Pajjar Laggu, Ngapote, Karaban Sape dan budaya lainnya adalah sebuah bukti bahwa orang Madura adalah pekerja keras, teguh dan konsisten pada pendirian, kreatif dan selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada sekecil apapun.
Konsepsi ini bisa dipertimbangkan untuk dijadikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa ke depan tentunya dengan menjunjung tinggi prinsip transparansi dan kebersamaan untuk kesejahteraan.


-dalam.jpg)



