Judulnya begitu narsis bukan??tapi harus sy judul-i demikian karena memang judul itulah yang pas (menurut saya). Semula nama tidak begitu penting buat saya, mungkin karena terinspirasi oleh pepatah "apalah arti sebuah nama" sehingga saya masih menganggap hal yang wajar ketika saya baru sadar bahwa nama saya adalah Achmad Yunus di kelas 3 Sekolah Dasar (sebelumnya saya hanya tau klo nama saya "Ninoy" karena orang-orang memanggilku dengan nama itu) karena waktu itu setiap siswa diberi tugas untuk mempresentasikan arti nama nya masing-masing di depan kelas.
Atas tugas itu kemudian saya mendatangi ibu saya (saya memang lebih dekat dengan ibu daripada dengan papa), dengan polos saya bertanya : "bo`, arapa senko` ma` e berri` nyama Ninoy?artena apa?polana badha PR dari guru.." (Bu kenapa saya kok diberi nama Ninoy?artinya apa?karena ada tugas dari guru), mendengar pertanyaan polos anaknya, ibu saya hanya tersenyum dan kemudian berkata “antos papa na bai ya cong, be`na a Tanya dibi` ka papa na” (nunggu papa datang ajah, trus kamu tanya sendiri ke papa). Setelah papa datang tanpa pabjang lebar langsung saya menanyakan hal yang sama kepada beliau. Mendengar pertanyaan itu, ekspresi tak jauh berbeda dengan ibu ditunjukkan oleh papa, bahkan papa lebih lebar tersenyumnya dan kemudian berkata “nyamana be`na saonggunah lengkap ba Achmad Yunus, tape ologganna Ninoy (nama lengkap kamu sebenarnya Achmad Yunus, tapi panggilannya Ninoy). Entah kenapa waktu itu saya tidak begitu mempermasalahkan 2 nama yang sangat berbeda pengucapan dan ejaannya yang orang tua saya berikan pada saya.
Kemudian saya ceritakan sekilas tentang tugas dari guru itu pada papa dan menanyakan arti nama saya. Mendengar pertanyaan tersebut (yang mungkin kritis waktu itu) papa terdiam cukup lama (mungkin beliau berpikir atau mengarang) dan berkata “papa a berri` nyama be`na Ninoy polana pas be`na rembi` jareya booming berita matena presiden Philippina Benigno Ninoy Aquino” (papa ngasih kamu nama Ninoy karena waktu itu sedang booming berita tertembaknya Presiden Philippina Benigno Ninoy Aquino). Tanpa banyak pikir langsung saya menulisya di buku untuk PR saya sambil menunggu kalimat selanjutnya yang akan terucap dari papa. Beliau kemudian diam, diamnya agak lama lebih lama dari diam beliau yang pertama (mungkin sedang berpikir atau mengarang sangat sangat keras) hingga terucap “mon Achmad Yunus yaa ma`olle padha moso kakakna be`na Mohammad Yusuf” (kalo nama Achmad Yunus ya biar matching ajah sama kakak kamu yang bernama Mohammad Yusuf), kembali tidak berpikir panjang dan hanya saya tulis di buku PR yang akhirnya ditertawakan oleh 40 orang kawan dan 1 guru Bahasa Indonesia di kelas keesokan harinya saat saya presentasikan (mungkin kejadian ini cikal bakal saya tidak bangga dengan nama saya).
Terlepas dari harapan orang tua saya agar anaknya bisa sepopuler dan sekualitas Benigno Ninoy Aquino, ternyata saya baru bisa mengerti dan bangga akan arti nama Achmad Yunus pada hari Rabu, tanggal 19 Agustus 2009 saat berlangsung kuliah perdana untuk mata kuliah perencanaan Sumber Daya Manusia pada program Magister Manajemen STIE Malangkucecwara. Karena kuliah pertama, seperti biasa pak dosen (yang kemudian menjadi dosen favorit saya) H. Ubaedy Fadhil memperkenalkan diri dan mengabsen satu per satu mahasiswa MM SDM kelas reguler yang dia asuh. Pada saat nama saya dibacakan “Achmad Yunus”, spontan saya mengacungkan jari lantas dosen tersebut berkata (perkaataan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya), “nama yang luar biasa, 2 nama nabi dalam satu orang”. Kemudian kembali beliau menanyakan kepada saya “tau mukjizat nabi Yunus AS? Karena memang sering saya dengar dengan lantang saya menjawab “tau pak, tidak mati saat dimakan ikan paus”, kemudian beliau kembali bertanya, tau doa nabi Yunus saat di dalam perut ikan paus? Untuk pertanyaan kali ini saya hanya diam seribu bahasa karena memang saya tidak pernah tau.
Sepulang dari kuliah bergegas saya menuju warnet untuk mencari tahu doa nabi Yunus AS saat di dalam perut ikan paus, hingga saya menemukan itu “laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu min al-dzaalimiin (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim). [Lihat al-Qur'an surat Al-Anbiya': 87].
Kemudian sekilas saya baca kisah nabi Yunus AS yang ditulis oleh Indra Muslim dalam blog pribadinya. Dalam kisah ini, bahwa Allah telah menegur sikap Nabi Yunus AS yang lemah (tidak sabar) serta memenjarakannya di dalam perut seekor ikan besar sebagai penebus kesalahan nabi Yunus yang pergi dari umatnya karena tidak sabar atas reaksi umatnya yang menolak kehadiran Yunus AS dalam menyerukan agama Allah. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman dengan kisah Nabi Yunus AS, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144).
Juga dalam kisah ini terdapat keterangan, sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW, “Berkenaan dengan do’a saudaraku Dzun Nun (Nabi Yunus AS), bahwa tidaklah seseorang yang sedang mendapatkan kesusahan berdo’a dengan do’a tersebut, melainkan Allah akan menghilangkan kesusahan itu darinya, yaitu: “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” (Al-Anbiya’: 87)
Dalam kisah ini didapati pesan, bahwa iman pasti dapat menyelamatkan seseorang dari penderitaan atau kesusahan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya’: 88). Yakni jika mereka ditimpa kesusahan maka mereka akan dibebaskan darinya karena keimanan mereka.
Sesaat setelah membaca itu, rasa bangga tumbuh dan berkembang (bahasanya SBY), yuup... dengan bangga saya katakan, nama saya Achmad Yunus (beban gak siy?? tapi konon katanya kalo nama nya terlalu berat biasanya si bayi sakit-sakitan, naaah alhamdulillah saya tidak sakit-sakitan waktu kecil, jadi saya anggap gak masalah). Tidak ada alasan untuk tidak bangga terhadap nama kita, terlebih terhadap orang tua yang memberi kita nama itu. Semoga Allah menyayangi orang tua kita, "robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo" (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil). Semoga menginspirasi...
Saturday, August 22, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment