Sunday, August 23, 2009

Opportunity Cost tiba-tiba menjadi tak berarti...

Seseorang menyarankan saya untuk belajar tentang opportunity cost, Yuup.. topik bahasan yang cukup familiar bagi mereka dengan basic keilmuan ekonomi. Yang menarik buat saya sebenarnya bukan tentang opportunity cost-nya, tetapi tentang mengapa orang itu menyarankan saya belajar tentang opportunity cost?berikut ini akan coba digambarkan…

Yeah, suatu peristiwa yang dalam prespektif dia lebih banyak mudharat nya daripada manfaatnya, sehingga tindakan saya terkesan tidak efisien dan cenderung merugi, oleh karena itu, disarankanlah saya untuk mendalami apa itu opportunity cost sehingga tidak terlalu reaktif atas sebuah pertanyaan maupun pernyataan.

Baiklah, karena alasan tertentu “alam bawah sadar” saya dapat menerima alasan itu. Saya sangat suka dengan jargon “lebih cepat, lebih baik”, hal ini bukan berarti orientasi politik saya kepada salah satu kelompok, tapi karena kalimat yang mudah diingat itu sekaligus mudah dipahami dan memiliki konseptual yang luar biasa buat saya, tentu sedikit mengerutkan dahi saat mulai mempelajari opportunity cost, atau karena saya memang tidak punya jiwa bisnis sehingga tidak terlalu hirau dengan hilangnya suatu sumberdaya karena risiko tindakan.

Dari referensi berbahasa inggris yang saya baca (bukan sok keminggris, tapi karena memang yang tersedia semuanya berbahasa Inggris, opportunity cost is "...the cost of something in terms of an opportunity foregone (and the benefits that could be received from that opportunity), or the most valuable foregone alternative." (Dictionary.LaborLawTalk.com), kurang lebihnya (mungkin banyak kurangnya) : suatu biaya dari hilangnya suatu kesempatan dalam menggunakan sumber daya tertentu. Definisi sederhananya demikian. Kembali alam bawah sadar saya mengangguk dan mengerti kenapa “beliau” menyuruh saya mendalami opportunity cost, namun belum coba saya koordinasikan bahkan mengkonfrontasikan dengan pikiran saya tentang anggukan itu, sehingga saya belum bisa memberikan prespektif.

Baiklah, Cukup.. tiba-tiba “Logika” saya berontak dan berkata “opportunity cost tdk relevan digunakan dalam kasus ini yunus…” kemudian timbul persoalan baru, ada gejolak akibat perang sederhana antara “Alam Bawah Sadar” dengan “Logika” saya, namun saya tetap memposisikan “Hati” pada posisinya, untuk menjaga objektivitas dari “Hati” yang sangat diperlukan terutama saat akan mengambil keputusan akhir sebagai sintesa dari semua antitesa yang ada.

“Alam Bawah Sadar” saya berbicara, dengan lantang dia berkata “Opportunity cost diperlukan untuk menimbang dan mempertimbangkan serta menimang-nimang apakah tindakan dari “Tindakan” itu tidak merugikan secara matematis atau tidak? Pipit, dalam blog another try-nya mengatakan Kalau kita melihat waktu sebagai sumber daya (Yup..time is a resource!!) maka opportunity cost adalah biaya memilih untuk melakukan aktivitas A daripada aktivitas B, ungkap “Alam Bawah Sadar” meyakinkan para hadirin dan stakeholders yang hadir dalam majelis evaluasi. Ooh iya, perlu saya kenalkan bahwa majelis evaluasi adalah forum konfirmasi dan evaluasi yang biasa saya selenggarakan atas tindakan saya yang menimbulkan reaksi orang lain, ekstrimnya menimbulkan sakit hati orang lain untuk menemukan jawaban dan perbaikan demi kehidupan selanjutnya dan hadirin/stakeholders yang hadir dalam majelis itu terdiri dari “Alam Bawah Sadar” (penggugat), Tindakan (terdakwa), Logika (pengacara), Hati (saksi ahli) dan Keputusan (hakim).

Atas ungkapan dari “Alam Bawah Sadar” itu, “Logika” berdiri dan berucap dengan keras “Tolong anda pahami, bahwa opportunity cost sangat tidak relevan diterapkan dalam kasus ini. “Tindakan” telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, “Tindakan” telah mencapai tujuan dari apa yang dia lakukan yaitu memberikan pandangan untuk orang lain, namun sebagai hakim, perlu bapak “Keputusan” pertimbangkan bahwa banyak hikmah yang didapat dari tindakan yang dilakukan oleh “Tindakan” yaitu wacana tentang karakteristik suku tertentu yang setiap hari selalu bergumul dengan kita, ini untuk kebaikan semua, bukan hanya “orang lain” (beliau) itu. Perdebatan demi perdebatan terus berlangsung, pemahaman “Alam Bawah Sadar” tentang opportunity cost, keteguhan “Logika” dan sok bijaksananya “Keputusan” ternyata melupakan sesuatu diantara mereka, yaitu “Hati” sebagai saksi ahli. Oleh karena itu “Keputusan” sebagai majelis hakim mempersilahkan “Hati” untuk berbicara. Dengan senyumnya yang simetris dan pandangan serta logatnya yang khas dan menyejukkan, “Hati” berkata “Bismillahirrahmanirrahim, hadirin sekalian… masalah ini bukanlah sekedar masalah antara Alam Bawah Sadar, Tindakan dan Logika, tapi lebih kepada masalah kita semua. Kita harus jernih mendiskusikan ini, dengan memperlebar jendela yang sudah terbuka. “Alam Bawah Sadar” tidak akan serta merta muncul tanpa tekanan dari kehendak dan emosi, emosi pun tidak akan serta merta muncul tanpa kehadiran sosok yang mutlak tak terbatas dan semua itu bermuara pada saya “Hati” yang memang memiliki karakteristik yang unik, misterius, jujur namun susah ditebak. Mengutip dari lirik lagu berjudul Aku Cinta Dia yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa, “hati yang berbunga pada pandangan pertama”, ketika pertama hati telah berbunga, maka semua akan dilakukan, Alam Bawah Sadar akan bereaksi, Logika akan bekerja, keputusan mendadak mudah untuk memutuskan dan semua seolah melakukan satu anggukan. Jendela pun tertutup, resiko sebesar apapun seolah menjadi sangat kecil dan merah menjadi jingga, hijau menjadi kuning dan ungu menjadi biru. Tidak hanya itu, untuk sekedar mencari perhatian pun terkadang hal yang tidak logis menjadi logis, setinggi apapun gunung akan didaki, sedalam apapun samudra akan diselami, semua itu berangkat dari “hati yang berbunga”.

Lantas, “Logika” kemudian berdiri dan menyalahkan “Hati” yang begitu mudah berbunga dengan sosok yang baru dikenalnya.. dengan pandangan sayu dan suara terbata-bata “Hati” pun berkata, inilah yang tidak kalian miliki, tidak butuh alasan panjang dan logis untuk membuat ”Hati” berbunga, tidak butuh waktu lama dan birokratis untuk membuat ”Hati” berbunga dan tidak butuh kehadiran fisik untuk membuat “Hati” itu berbunga.. Alam Bawah Sadar, Logika, Keputusan tidak punya itu semua, ini adalah hasil koalisi antara “Hati” dan “Emosi”. Kemudian, Alam Bawah Sadar, Logika, Keputusan diam seribu bahasa, hadirin yang hadir dan para stakeholders berdiri lalu memberikan standing ovation atas pernyataan “Hati” itu, mendadak teori opportunity cost terlupakan, resiko besar atas tindakan kemarin pun seolah terendap dan kemudian mereka saling berpelukan dan berkata, “Mari kita hadapi resiko ini, masing-masing diantara kita harus pasang badan untuk “Hati”, itu adalah pilihan atas sebuah kejujuran dan kepolosan reaksi dari berbunganya hati...

----------
terinspirasi dari pembicaraan dengan seorang muslimah bersahaja yang memiliki senyum simetris dan konsepsi hidup yang luar biasa

No comments: