
Dua "R" yang sering diperbincangkan dan bergelayut dalam keseharian kita, yaitu Rasa dan Rasio.
rasa dan rasio biasanya identik dengan tindakan dan keadaan. Taufik Bahaudin mengatakan bahwa respek itu adalah rasa, bukan rasio.
perbedaan yang mungkin sebagian besar orang menipiskan jaraknya mungkin akan susah bagi kita mengotakkan apa itu rasa dan apa itu rasio berikut dampak dari perbuatan yang didominasi rasa ataupun perbuatan yang didominasi rasio.
rasa dan rasio sangat diperlukan, krn dengan koalisi antara rasa dan rasio akan tercipta sebuah pemerintahan diri permanen yang kuat, mantap dan luar biasa. NAMUN, satu hal yang hampir selalu menjadi oposisi dalam sistem pemerintahan diri yaitu pecahan dari rasa yang biasa kita sebut dengan "ego"
ego adalah pecahan dari rasa yang semua orang memilikinya. koalisi antara rasa dan rasio yang proporsional akan menumbuhkan sebuah karakter diri yang elegan, berciri dan tentu populer. Kinerja dari sinergi antara rasa dan rasio tentu tidak akan semulus koalisi antara darah dan pembuluh, koalisi antara telunjuk dan jempol saat akan meraba maupun koalisi antara lidah dan gigi saat mengunyah makanan. koalisi rasa dan rasio selalu dibayang-bayangi oleh keberadaan oposisi ego yang selalu profesional dan konsisten menempatkan dirinya di jalur tersendiri.
Seseorang dikatakan berhasil membawa dirinya dalam pola leadership yang berciri ketika dia bisa mengawal keutuhan koalisi rasa dan rasio serta bisa memanage, merawat ego sebagai oposan dan memastikannya tidak akan merongrong pemerintahan rasa & rasio untuk menciptakan karakter diri yang berciri.
sebagai oposan, ego memiliki berbagai jalur dan hak untuk melakukan tekanan kepada rasa dan rasio dalam pengambilan keputusan seperti hak angket, hak interpelasi bahkan ekstrimnya ego dimungkinkan melakukan kudeta dan mendominasi diri dengan menumbangkan rasa dan rasio sebagai pemerintah yang sah dalam diri kita.
rasa dan rasio berangkat dari titik yang berbeda dan akan berakhir di dua kemungkinan, yaitu di titik yang berbeda pula mapun di titik yang sama, ego akan selalu konsisten dan istiqamah memperjuangkan kepentingannya, tinggal bagaimana kita bisa membuktikan apa yang dominan anatara rasa, rasio dan ego.
MUDAH untuk membedakan dominasi siapa, yaitu dengan dampak dari perbuatan itu sendiri. dominasi anatara koalisi rasa dan rasio akan membentuk karakter diri yang berciri dan elegan dengan perbuatan-perbuatan yang proporsional, matang dan memperhatikan kanan kiri, namun dominasi dari ego akan menghasilkan perbuatan yang berkesan "untuk saya, bukan untuk kalian" yang hal itu tentu banyak berdampak bagi kanan kiri. Rasa, rasio dan ego memang harus dirawat dengan baik, akan tetapi jangan sampai salah satu dari ketiganya mendominasi kerja pemerintahan diri kita. harus ada koalisi antara rasa dan rasio dengan oposisi dari ego.
Selamat mencoba... :)

No comments:
Post a Comment