Sunday, September 23, 2007

Masalah AIR diantara KEBUTUHAN & KELANGKAANNYA


Apabila kita membicarakan tentang air, maka terkadang yang ada di benak kita adalah mandi, nyuci, masak dan aktivitas keseharian yang lain. Secara harfiah air memang didefinisikan sebagai suatu zat cair yang memiliki sifat menempati ruang dan mengalir dari yang tinggi ke yang lebih rendah. Difinisi diatas mungkin pernah kita dengar pada saat mengikuti pelajaran IPA di Sekolah Dasar dan kembali dipertajam di SMP bahkan SMA.

Pengetahuan akan air melalui pendidikan formal di sekolah saja menurut penulis tidaklah cukup, karena saat ini krisis yang tengah dihadapi oleh air luar biasa kronisnya, sehingga pelajar Indonesia saat ini hendaknya tidak hanya serius menyimak dan terbuai dengan definisi air sebagaimana disampaikan dalam kurikulum sekolah. Kita harus pandai melihat bahwa saat ini dunia tengah diambang bahaya kekurangan air. Presiden SBY diagendakan akan menyampaikan orasi pada forum PBB di New York yaitu pada acara High Level Meeting on Climate Change yang membahas tentang perubahan iklim di dunia akibat pemanasan global yang terjadi pada kurun waktu terakhir, hal ini menunjukkan bahwa air sudah menjadi masalah yang serius. Kita harus sadar bahwa air adalah sumber kehidupan di dunia, mustahil dunia akan berpenghuni tanpa jasa yang diberikan oleh air.

Pertumbuhan penduduk di Indonesia setiap tahunnya dicatat mengalami pertumbuhan 0,5 % sehingga otomatis kebutuhan akan air semakin bertambah. Di Indonesia, saat ini air hanya bergantung pada aturan induk yaitu UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang masih sangat jauh dari upaya “melindungi” keselamatan air, UU tersebut hanya banyak mengatur yang lumayan mudah untuk disiasati dalam implementasinya.
Kondisi kebutuhan akan air dan kelangkaannya tentu merupakan sebuah peluang bagi investor untuk mengembangkan usahanya. Besarnya permintaan akan air minum yang bersih membuat para pemasar rame-rame terjun ke industri air minum olahan.
Kebutuhan penduduk urban akan air yang bersih menjadi motif ekonomi lahirnya industri air minum dalam kemasan. Air minum yang bersih, selalu dan akan terus menjadi masalah penduduk urban dalam beberapa dekade ke depan. Meski pemerintah telah memiliki Perusahaan Air Minum (PAM) untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, toh tingkat kepercayaan untuk minum air ledeng (sekalipun sudah direbus) tidak pernah meningkat.
Pasar industri ini memang menawarakan angka yang menggiurkan. Pada tahun 2004, nilai industri ini telah mencapai...... triliun rupiah, dengan angka pertumbuhan ...% setahun. Itulah sebabnya, mengapa banyak pemain—mulai dari pemain besar sampai industri rumah tangga—menyesaki industri ini. Teorinya “ada gula ada semut”; makin banyak gula, makin banyak semut yang datang.

Adalah Tirto Utomo, yang pertama kali memelopori air minum dalam kemasan dengan merek Aqua-nya. Dulu seringkali disebut sebagai air mineral, namun karena ada keberatan beberapa pihak, akhirnya disebut sebagai AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Kepioniran Aqua ini membuahkan hasil: pasar yang bertambah besar dan pemain yang bertambah banyak. Apalagi pengolahan AMDK bisa dilakukan mulai dari yang sederhana sampai canggih. Yang penting: bersih dan sehat!
Akibatnya, setelah susah payah mengumpulkan market share (sampai 80%), Aqua terus-menerus mengalami ancaman dari berbagai pemain, yang misinya hampir serupa: mengambil sepersekian saja dari pangsa pasar Aqua.
Situasi ini patut membuat Aqua deg-degan. Siapakah yang paling kelimpungan dengan bertumbuhnya industri air minum isi ulang? Aqua! Mengapa? Soalnya, kemasan bekas galon mereka dijadikan tempat untuk mengisi air minum isi ulang. Sebagai pemain terbesar, sudah risiko jika galon bekas Aqua paling banyak ditemui konsumen.
Aqua pula yang kelabakan dengan banyaknya pemain baru yang mengambil keuntungan dari ke-generik-an merek Aqua. Itulah sebabnya mereka sampai meluncurkan iklan untuk mendidik masyarakat bahwa Aqua itu, ya Aqua (Bukan Ades, bukan Dua Tang, bukan Total, dan bukan yang lain-lain).
Bau sedap industri ini juga sudah masuk ke hidung pemain besar industri makanan dan minuman lainnya. Coca-Cola Company membeli Ades. Belakangan Nestle juga “jahil” masuk ke pasar ini dengan meluncurkan air minum kemasan bermerek Nestle. Lewat kekuatan jalur distribusi yang dimiliki, mereka yakin bisa membanjiri pasar dengan brand mereka. Semuanya, tentu saja dengan iming-iming: air sehat.

Isu paling mutakhir adalah lahirnya sub kategori baru dalam industri ini, yaitu air beroksigen. Premis yang diajukan ke konsumen adalah: masyarakat perkotaan kekurangan zat cair yang mengandung oksigen. Apalagi, polusi di kota besar membuat masyarakat semakin sulit memperoleh udara bersih.
Logikanya, kekurangan itu bisa dipenuhi dengan minum air yang mengandung O2. Walaupun untuk meminumnya perlu ritual tertentu (dibuka dan langsung diminum habis) pemilik merek air minum beroksigen ini tetap percaya diri bahwa pasar air semacam ini bakal bertumbuh. Buktinya, beberapa pemain pun coba-coba masuk ke kategori tersebut. Mereka berupaya menggeser masyarakat ke paradigma baru: air sehat adalah air yang mengandung oksigen cukup.

Bagi yang berduit lebih, mencari air sehat tidak perlu dengan membeli air minum yang sudah dikemas. Mereka bisa membeli Water Treatment System untuk dipasang di rumah atau alat penyaring air yang bukan sekadar membersihkan air ledeng, tetapi juga menghilangkan berbagai penyakit dan membuat awet muda. Alat semacam ini juga menjadi ancaman bagi Aqua di masa mendatang. Apalagi jika pemasar produk ini bisa meyakinkan konsumen dengan perhitungan ekonomis jangka panjang. Plus, jaminan kesehatan di masa mendatang.
Sekarang tinggal bagaimana konsumen teredukasi oleh definisi air sehat. Apakah air yang berasal dari mata air pegunungan? Atau air dengan kadar mineral tinggi? Atau air yang beroksigen? Atau air heksagonal?

Menariknya, semua air minum olahan tersebut nyaris tidak berbeda rasanya. Semua unsur yang menjadi nilai jual, sebenarnya tidak bisa langsung dirasakan oleh orang awam. Selain pelepas dahaga, benefit lain dari air olahan bersifat jangka panjang. Akhirnya, bagi konsumen, air, ya tetap air. Persepsi manusialah yang membuatnya berbeda.

Ancaman komersialisasi atas air yang digambarkan diatas tentu menjadi sebuah teguran tersendiri kepada penguasa. Konstitusi kita UUD 1945 dalam pasal 33 ayat (3) jelas mengatakan bahwa ” Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kalimat tersebut merupakan sebuah suratan yang tersirat dan menjadi kewajiban dalam implementasinya, tapi kenyataannya, saat ini penduduk di Indonesia sangat susah untuk mendapatkan air di musim kemarau yang tidak hanya sekedar gundulnya hutan-hutan di hulu, tapi juga karena datangnya mesin-mesin besar milik pabrik-pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menyedot air lansung dari sumber-sumber air untuk mereka jual, alhasil.. rakyat harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk mendapatkan air, sementara pemerintah ikut menikmati melalui pajak usaha, ijin pemanfaatan air, retrebusi dll dari pabrik-pabrik yang ada.

Memang, Pemerintah mendapat keuntungan yang cukup besar dari pajak/retrebusi yang dikenakan kepada pabrik, tapi apakah pemerintah tidak pernah berpikir tentang keselamatan rakyat kecil yang semakin hari semakin susah untuk mendapatkan air??

Pemerintah saat ini lebih memilih mendatangkan investor untuk menambah pendapatan negara daripada harus menyayangi rakyatnya dengan memberikan suplai air bersih yang cukup untuk rakyat yang memang adalah tugas dan tanggung jawab pemerintah.

Sadarlah..

2 comments:

Anonymous said...

yup, saya sepakat dengan Anda Bung Yunus....seharusnya pemerintah dan negara lebih melindungi rakyatnya, tapi masalahnya, bagaimanakah caranya agar Pemerintah mau berbuat demikian?adakah hal yang dapat kita lakukan?adakah yang peduli kemudian melakukan gugatan terhadap Pemerintah karena mengabaikan bahkan mengorbankan kepentingan rakyatnya?


SALAM....

Anonymous said...

Wah.. saya sangat setuju dan perhatian penuh terhadap masalah kelangkaan air ini pak. Saya dukung sosialisasi tentang hal ini pak. Thanks sudah berkunjung ke www.irmadevita.com.
salam kenal, sukses selalu untuk anda