
Kekerasan yang terjadi di kampus IPDN Jatinangor Sumedang bukan sekedar terjadi satu atau dua kali saja, data yang disampaikan seorang dosen senior di kampus calon camat tersebut bernama Inu Kencana menyebutkan sudah 35 Praja Meninggal Dunia. pimpinan STPDN hendaknya mau belajar dari kejadian sebelumnya dan mengevaluasi apa yang salah, pada sistem kah atau akibat individu dari masing-masing praja?
"Tampilan luar" para mahasiswa di kampus itu sangat mengerikan, dengan seragam berwarna cokelat muda lengkap dengan atribut-atribut bergaya militer menimbulkan kesan gagah plus berwibawa bagi siapapun yang melihatnya, karena masyarakat kita masih terlarut pada kejayaan orde baru yang menganggap bahwa gaya militeristik yang mendominasi pada saat itu memiliki power yang luar biasa.
akan tetapi, sangat tidak pas apabila ke "gagah"an itu masih dipertahankan hingga saat ini di kampus calon pamong praja. pemimpin-pemimpin di level desa/kecamatan bahkan kabupaten saat ini sudah tidak identik dengan militer, sangat berbeda dengan zaman orde baru yang hampir tiap bupati/wali kota memiliki background militer, sehingga wajarlah kiranya apabila lurah dan camat sebagai bawahannya harus menyesuaikan dengan gaya-gaya militer.
Orde baru telah berlalu, IPDN sebagai sekolah bagi para calon lurah dan camat hendaknya menanggalkan segala atribut-atribut luar (seragam) dan tampil sebagaimana mahasiswa biasa yang lebih menonjolkan intelektualitasnya daripada kepremanannya.
Pemakaian seragam bergaya militer otomatis mempengaruhi kejiwaan dan kondisi psikologis para praja, karena mereka yang berseragam merasa superior dan memiliki power, sehingga tak ayal sering terjadi penganiayaan kpd para juniornya. sistem dan tradisi di kampus tersebut seolah menyiram dan memupuk kesuburan para preman-preman pemerintahan di kampus IPDN.
Perubahan nama yang semula STPDN dan kemudian dirubah menjadi IPDN serta pergantian pimpinan di kampus tersebut TERBUKTI tidak membawa perubahan apapun.
Saatnya tanggalkan seragam, dan jadilah sekolah kedinasan yang menonjolkan nilai-nilai intelektuil, karena masyarakat kita butuh pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi serta berahlak mulia. belajar pada sekolah kedinasan yang lain seperti STAN yang berada di bawah Departemen Keuangan yang selama ini telah melahirkan para lulusan yang kemampuannya mumpuni akan tetapi memiliki tampilan luar yang "biasa saja" layaknya mahasiswa pada Universitas-universitas lainnya.
Para Praja, masikah kalian bangga dengan seragam kalian???
"Tampilan luar" para mahasiswa di kampus itu sangat mengerikan, dengan seragam berwarna cokelat muda lengkap dengan atribut-atribut bergaya militer menimbulkan kesan gagah plus berwibawa bagi siapapun yang melihatnya, karena masyarakat kita masih terlarut pada kejayaan orde baru yang menganggap bahwa gaya militeristik yang mendominasi pada saat itu memiliki power yang luar biasa.
akan tetapi, sangat tidak pas apabila ke "gagah"an itu masih dipertahankan hingga saat ini di kampus calon pamong praja. pemimpin-pemimpin di level desa/kecamatan bahkan kabupaten saat ini sudah tidak identik dengan militer, sangat berbeda dengan zaman orde baru yang hampir tiap bupati/wali kota memiliki background militer, sehingga wajarlah kiranya apabila lurah dan camat sebagai bawahannya harus menyesuaikan dengan gaya-gaya militer.
Orde baru telah berlalu, IPDN sebagai sekolah bagi para calon lurah dan camat hendaknya menanggalkan segala atribut-atribut luar (seragam) dan tampil sebagaimana mahasiswa biasa yang lebih menonjolkan intelektualitasnya daripada kepremanannya.
Pemakaian seragam bergaya militer otomatis mempengaruhi kejiwaan dan kondisi psikologis para praja, karena mereka yang berseragam merasa superior dan memiliki power, sehingga tak ayal sering terjadi penganiayaan kpd para juniornya. sistem dan tradisi di kampus tersebut seolah menyiram dan memupuk kesuburan para preman-preman pemerintahan di kampus IPDN.
Perubahan nama yang semula STPDN dan kemudian dirubah menjadi IPDN serta pergantian pimpinan di kampus tersebut TERBUKTI tidak membawa perubahan apapun.
Saatnya tanggalkan seragam, dan jadilah sekolah kedinasan yang menonjolkan nilai-nilai intelektuil, karena masyarakat kita butuh pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi serta berahlak mulia. belajar pada sekolah kedinasan yang lain seperti STAN yang berada di bawah Departemen Keuangan yang selama ini telah melahirkan para lulusan yang kemampuannya mumpuni akan tetapi memiliki tampilan luar yang "biasa saja" layaknya mahasiswa pada Universitas-universitas lainnya.
Para Praja, masikah kalian bangga dengan seragam kalian???

1 comment:
They should not be proud by the uniform.. Apa sih bagusnya seragam yang melambangkan kekerasan dan kebobrokan moral?? Kita gak butuh pemimpin seperti itu,, hanya akan menambah kebobrokan negara ini..
Gak ada orang tua yang bercita-cita melihat anaknya lulus dari sebuah sekolah dalam keadaan tak bernyawa..
Amat sangat diragukan apakah perubahan yang dilakukan kali ini akan dapat merubah "tradisi" para praja yang telah mendarah daging dari satu generasi ke generasi berikutnya.. Bahkan tindakan amoral pun pernah terjadi di sekolah kedinasan ini,, astaghfirullaahal'adhiim,, entah bagaimana mempertanggungjawabkannya kelak..
Semoga Allah memberikan jalan agar pemerintah dapat mengambil keputusan terbaik demi kelangsungan bangsa ini..
Post a Comment