Ki Hajar Dewantoro saat ini jasadnya memang telah terkubur, gejolak pergerakan Budi Utomo yang menjadi ujung tombak mengawali Kebangkitan Nasional 100 tahun silam memang telah tiada. Mungkin hanya sedikit diantara masyarakat Indonesia yang memahami makna dari semangat pergerakan Budi Utomo. Keinginan dan semangat untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia menjadi pemacu pergerakan tersebut, Budi Utomo dinilai berhasil menjadi icon kebangkitan nasional di Indonesia meskipun kita telah menjadi legenda.
Perlu kita renungi,
Saat ini Indonesia telah mengalami pertumbuhan secara signifikan dalam sejarah peradabannya. Indonesia mengklaim dirinya telah tumbuh dan bangkit menjadi negara terkemuka di Asia Tenggara. Beragam kontribusi telah ditorehkan untuk dunia. Iklim investasi sebagaimana dilaporkan institusi pemerintah di bidang investasi setiap tahunnya mengalami kenaikan. Para menteri secara rutin melaporkan prestasi-prestasinya kepada Presiden dalam rapat kabinet dan presiden hampir selalu menyambut laporan bawannya tersebut dengan senyum bahkan dengan pujian. Sejenak mungkin kita berfikir bahwa nampaknya Indonesia telah bangkit saat ini.
Lebih dari 200 juta jiwa manusia ditakdirkan berada di tanah yang konon katanya permai ini. UUD 1945 yang menjadi dasar operasional kenegaraan di Indonesia mengatakan bahwa rakyat Indonesia wajib untuk melakukan apapun demi membela Negara Indonesia. Indonesia tidak hanya mewajibkan rakyatnya dalam membela negara dalam arti ekstrimnya turut berperang apabila kedaulatan negara sedang terusik akan tetapi sebagaimana negara-negara yang lain, Indonesia juga mewajibkan rakyatnya untuk membayar pajak (upeti) yang konon nantinya akan digunakan untuk membiayai segala hal untuk kemajuan bangsa baik berupa infrastruktur, pendidikan, subsidi BBM dll yang dibutuhkan oleh rakyat. Seakan terinspirasi dari pola marketing produk-produk komersial, iklan seruan untuk membayar pajak juga seringkali mewarnai layar televisi di Indonesia, berikut petikannya :
”sama negara saja kamu sudah tak adil, apalagi sama anakku, apa kata dunia??”
Petikan kalimat ini mungkin membuat penontonnya tersenyum, mungkin rakyat Indonesia balik bertanya pada negara apakah selama ini negara sudah adil dengan rakyatnya??
Kenaikan harga BBM yang seakan tak terbendung lagi, harga bahan pokok yang banyak orang tidak dapat menjangkau, korupsi merajalela di semua lini, keadilan dimuka hukum yang susah dicari, pekerjaan yang semakin langka, pelayanan kesehatan yang kian mahal, pendidikan berkualitas yang mustahil dinikmati rakyat kecil, terjadinya pemalakan kolektif yang dilakukan aparat birokrasi dll.
”sama negara saja kamu sudah tak adil, apalagi sama anakku, apa kata dunia??”
Petikan kalimat ini mungkin membuat penontonnya tersenyum, mungkin rakyat Indonesia balik bertanya pada negara apakah selama ini negara sudah adil dengan rakyatnya??
Kenaikan harga BBM yang seakan tak terbendung lagi, harga bahan pokok yang banyak orang tidak dapat menjangkau, korupsi merajalela di semua lini, keadilan dimuka hukum yang susah dicari, pekerjaan yang semakin langka, pelayanan kesehatan yang kian mahal, pendidikan berkualitas yang mustahil dinikmati rakyat kecil, terjadinya pemalakan kolektif yang dilakukan aparat birokrasi dll.
Realitas diatas mencerminkan Indonesia saat ini, belum lagi iklim politik tanah air yang membuat bingung rakyat banyak, stasiun televisi di Indonesia diuntungkan dengan ramainya order iklan layanan masyarakat dari tokoh-tokoh politik nasioanl, seperti Wiranto dengan ”saya akan mewakafkan sisa hidup saya untuk kesejahteraan rakyat”, Prabowo Subijanto dengan ”belilah hasil pertanian dari petani-petani Indonesia”, Sutrisno Bachir dengan ”hidup adalah perbuatan” mereka seakan saling berlomba untuk menampilkan slogan serta tampilan audio visual terbaik ala mereka masing-masing, sebuah pertunjukkan yang cukup menghibur mungkin bagi sebagian rakyat Indonesia ditengah kebingungan untuk membeli bahan pokok, kenaikan harga BBM, sulitnya pekerjaan dan penggusuran yang merajalela.
Dengan keadaan demikian apakah kita pantas untuk merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional???

No comments:
Post a Comment